Kesimpulan saya (bukan kesimpulan orang lain): Pramuka bagus untuk jd ekskul wajib, bahkan bila perlu ada anggaran untuk melatih kakak kakak pembina baru, ada anggaran untuk bikin jambore daerah tingkat kecamatam, kabupaten/ kota, tingkat provinsi dan tingkat nasional. Wong Jambore tingkat dunia aja ada.
Eh satu lagi pak, eskkul olahraga juga harus ada. Khan kita mau mencetak generasi gesit, bukan generasi mager (sambil pegang gadget trus klak klik pesan makan lewat aplikasi)
Jangan biarkan Pramuka mati karena kesalahan keputusan politik.
Sedih urang..” tulisnya.
Dihilangkannya Pramuka dari Ektrakurikuler wajib banyak mendapat tanggapan dari berbagai pihak. Menanggapi tentang Pramuka yang tidak di hilangkan ekskul wajib, Marcho Nouviq Iquino, seorang Pramuka dengan pangkat Penegak Bantara kepada media ini mengatakan, “tidak setuju jika pramuka tidak dimasukkan dalam ekskul wajib karena Pramuka itu merupakan dasar pendidikan karakter yang di dalamnya memuat semua unsur tentang kedisiplinan, kerjasama (teamwork), kebersamaan, Bela Negara, kebinekaan, cinta alam, kesopanan dan tata krama, keagamaan dan lain-lain yang berhubungan dengan kemasyarakatan,” paparnya.

Iquino menambahkan, “bagi saya pramuka wujud tingakah laku dalam kebidupan sehari-hari, saya menjaadi pramuka dari SD, SMP, SMA bahkan hingga kini, saya sebagai Duta Anti Narkoba Kabupaten Lumajang dari tahun 2022, apa yang saya pelajari Pramuka tetap terpakai dan bermanfaat,” jelasnya.
Selanjutnya Iquino mengakhiri dengan berujar “Salam Pramuka”, Kembalikan Pramukaku…..,” pungkasnya.












