Pekerjaan BKKD Desa Dayukidul di duga Tidak Sesuai Spek

BOJONEGORO | MMC – Proyek pembangunan rabat beton di Desa Dayukidul, Kecamatan Kedungadem, Kabupaten Bojonegoro, menjadi sorotan. Pekerjaan yang bersumber dari Bantuan Keuangan Khusus (BKK) Desa Bojonegoro Tahun Anggaran 2025 dengan nilai mencapai Rp3,7 miliar tersebut diduga tidak sesuai dengan spesifikasi teknis, khususnya pada penggunaan material besi untuk penulangan konstruksi.

Berdasarkan hasil pantauan langsung tim media di lokasi proyek, ditemukan adanya perbedaan ukuran pada material besi yang digunakan. Untuk besi strauss yang disebut-sebut berdiameter 10 milimeter, hasil pengukuran di lapangan menunjukkan variasi ukuran, yakni 8,3 mm, 8,7 mm, 8,9 mm, 9,1 mm, 9,8 mm hingga 10 mm.

Tak hanya itu, pada besi wiremesh yang seharusnya berukuran 8 milimeter, hasil pengukuran juga menunjukkan diameter di bawah standar. Dari sejumlah sampel yang diukur, besi wiremesh tercatat memiliki diameter antara 6,1 mm, 6,4 mm, 6,5 mm, hingga 6,6 mm, atau tidak mencapai 8 mm sebagaimana disebutkan dalam spesifikasi

Potensi Pengaruh terhadap Kualitas Konstruksi
Perbedaan ukuran material tersebut memunculkan dugaan adanya potensi penurunan mutu konstruksi. Secara teknis, diameter besi tulangan berpengaruh langsung terhadap kekuatan struktur beton, terutama dalam menahan beban dan mencegah retak atau kerusakan dini.

Apabila benar terjadi pengurangan diameter material dari spesifikasi yang ditetapkan, maka dikhawatirkan daya tahan rabat beton dalam jangka panjang akan menurun. Padahal proyek ini menggunakan anggaran negara dengan nilai yang tidak kecil.

Sejumlah warga yang ditemui di sekitar lokasi proyek berharap pembangunan infrastruktur desa tersebut benar-benar dikerjakan sesuai standar. Mereka menginginkan hasil pembangunan dapat bertahan lama dan tidak cepat rusak.

Klarifikasi Pihak Desa
Saat dikonfirmasi pada 3 Februari 2026, Sekretaris Desa Dayukidul memilih untuk tidak memberikan penjelasan rinci. Ia menyarankan agar konfirmasi langsung disampaikan kepada Kepala Desa serta Tim Pelaksana Kegiatan (Timlak), yang disebut bernama Tomo.

Namun ketika dikonfirmasi kembali pada Senin (16/2/2026), Tomo yang berada di lapangan menyatakan bahwa dirinya bukan Ketua Timlak.

“Ketua Timlak-nya bukan saya, tapi Pak Wo Edi. Saya anggota saja di lapangan. Pembangunan rabat beton menggunakan besi wiremesh ukuran 8 mm, besi strauss 10 mm. Langsung ke Kades saja, Mas,” ujarnya.

Pernyataan tersebut memunculkan perbedaan informasi terkait struktur pelaksana proyek di lapangan.

Kepala Desa Belum Memberi Tanggapan
Hingga berita ini diterbitkan, Kepala Desa Dayukidul belum berhasil ditemui untuk dimintai keterangan. Upaya konfirmasi yang dilakukan dengan mendatangi kantor desa maupun kediaman yang bersangkutan tidak membuahkan hasil. Pesan konfirmasi yang dikirimkan melalui aplikasi WhatsApp juga belum mendapat respons.

Tim media masih berupaya memperoleh klarifikasi resmi dari Kepala Desa maupun Ketua Timlak terkait dugaan ketidaksesuaian spesifikasi material tersebut, guna memastikan transparansi dan akuntabilitas penggunaan anggaran Bantuan Keuangan Khusus Desa Bojonegoro Tahun 2025.(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *