Puncak Arus Balik Ketapang-Gilimanuk Sudah Berakhir, Antrean Kendaraan Masih Terjadi
Antrean kendaraan menuju Pelabuhan Ketapang Banyuwangi
Dipenuhi kendaraan Arus balik Lebaran 2026 di penyeberangan Ketapan meski perlahan mulai normal, antrean kendaraan masih terlihat di jalur Situbondo menuju Pelabuhan Ketapang
General Manager ASDP Ketapang, Arief Eko, mengatakan, puncak arus balik sudah lewat terjadi pada hari minggu (29/03/2026 H+9 Lebaran, diperkirakan pengguna jasa penyebrangan masih sekitar hampir 8000 penumpang menyeberang ke Bali, didominasi kendaraan roda dua.
“Kami melihat puncak arus balik sudah lewat, namun antrean kendaraan masih terlihat bahkan hingga mengular dijalan yang menuju pelabuhan Ketapang
Hasil pantauan jurnalis mmc.co.id antrian mengakibatkan kemacetan parah dijalan sebelum arah pelabuhan diperkirakan hingga lebih 8 kilometer,”
Adanya antrian yang mengular hingga ke jalan raya Pihak ASDP terus berupaya mengatasi dan mengurai kemacetaan serta antrean dengan mengoperasikan 36 kapal.
Koordinasi di lapangan dilakukan secara intensif, termasuk dengan regulator dan pihak kepolisian, untuk menjaga kelancaran arus dan mempercepat proses penyeberangan.
“Kami juga fokus memastikan logistik tetap berjalan lancar,” ujarnya.
Pihak ASDP mempercepat bongkar muat kapal sehingga dapat mengurangi penumpukan kendaraan
Langkah-langkah ini menjadi penting, terutama setelah berakhirnya kebijakan pembatasan kendaraan logistik sumbu tiga ke atas yang sebelumnya diberlakukan di lintasan Ketapang-Gilimanuk pada 01 April 2026.
Berakhirnya pembatasan ini juga menjadi salah satu faktor memicu lonjakan,
kendaraan logistik banyak yang masuk ke pelabuhan hampir dengan waktu yang bersamaan,
koordinasi dan manajemen operasional terus ditingkatkan untuk mengantisipasi antrean.
“Pasca-berakhirnya pembatasan kendaraan logistik, terjadi peningkatan signifikan truk yang masuk ke Pelabuhan Ketapang. Kondisi ini berdampak pada antrean kendaraan,
Meski demikian masih bisa terkendali melalui penguatan manajemen operasional di lapangan,
Merespons kondisi tersebut, ASDP berkolaborasi dengan regulator dan operator kapal melakukan penyesuaian layanan secara adaptif.
Langkah-langkah yang dilakukan antara lain optimalisasi pola Tiba–Bongkar–Berangkat (TBB), penambahan trip dan armada kapal, hingga pengendalian ritme kendaraan melalui buffer zone.
“Agar arus logistik tetap terlayani dengan baik tanpa mengganggu kelancaran perjalanan pengguna jasa lainnya,” jelasnya.
Tercatat, ASDP mengoperasikan 36 kapal, dengan 10 kapal menerapkan pola TBB di Dermaga 4 untuk mempercepat proses bongkar muat.
Selain itu, enam kapal perbantuan turut memperkuat layanan, yakni Portlink VII, Liputan XII, Dharma Kencana IX, Dharma Rucitra, Karya Maritim II, dan Perkasa Prima V.
“Ini terjadi kemacetan sudah beberapa kali, masak iya masyarakat yang harus dipaksa terus-menerus untuk menanggung beban ini,”yudi (nama samaran) Rabu (01/04/2026).
Salah satu warga sebut saja Yudi (nama samaran) menegaskan, antrean panjang di lintasan penyeberangan tersebut bukan lagi kejadian baru, melainkan persoalan berulang yang belum mendapat solusi nyata.
Ia menilai kondisi ini seolah dibiarkan, sementara masyarakat pengguna jalan yang lain terus menanggung dampaknya.
Masyarakat Paling Dirugikan
Menurut Yudi (nama samaran) setiap kali kemacetan terjadi, masyarakat selalu berada di posisi paling dirugikan.
Waktu terbuang, tenaga terkuras, hingga biaya operasional meningkat tanpa kepastian kapan kondisi akan membaik.
“Kami masyarakat sudah banyak mengorbankan waktu, tenaga dan bahkan biaya dalam kondisi seperti ini,” ujarnya














