Malang | MMC.co.id
Staf Khusus Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) Bidang Media dan Komunikasi, Ma’ruf, menegaskan pentingnya penguatan sumber daya manusia (SDM) dan karakter peserta didik sebagai fondasi pembangunan pendidikan nasional di tengah berbagai tantangan yang masih dihadapi Indonesia, Senin (8/06/2026).
Hal tersebut disampaikan saat memberikan materi dalam kegiatan Pelatihan Peningkatan Kompetensi Instruktur dan Pengelola Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Berbasis Dunia Kerja Angkatan I Tahun 2026 yang diselenggarakan di BBPPMPV Bidang Otomotif dan Elektronika (BOE) Malang, serta diikuti peserta dari berbagai daerah di Indonesia.
Dalam paparannya, Ma’ruf mengungkapkan bahwa dunia pendidikan Indonesia masih menghadapi sejumlah persoalan mendasar. Berdasarkan hasil survei yang dipublikasikan Databoks pada Juni–Juli 2024, tantangan tersebut meliputi ketimpangan akses pendidikan, keterbatasan infrastruktur sekolah, rendahnya pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran, kurangnya pelatihan guru, keterbatasan pendanaan pendidikan, tingginya angka putus sekolah, hingga kebutuhan penyesuaian kurikulum dengan perkembangan zaman.
Menurutnya, berbagai persoalan tersebut perlu dijawab melalui kebijakan yang tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik, tetapi juga peningkatan kualitas manusia dan pembentukan karakter generasi muda.

“Pendidikan tidak cukup hanya membangun gedung dan fasilitas. Yang lebih penting adalah membangun manusia yang memiliki kompetensi, karakter, dan kemampuan beradaptasi dengan perubahan,” ujar Ma’ruf.
Ia menjelaskan, Kemendikdasmen saat ini memperkuat tiga pilar utama pendidikan nasional. Pilar pertama adalah penguatan infrastruktur fisik melalui pembangunan dan revitalisasi sarana pendidikan. Pilar kedua adalah infrastruktur pedagogis yang berfokus pada peningkatan kompetensi, profesionalisme, dan kesejahteraan guru. Adapun pilar ketiga adalah infrastruktur budaya yang menitikberatkan pada pembentukan karakter melalui penanaman nilai kebangsaan, kedisiplinan, gotong royong, serta akhlak mulia.
Pada kesempatan tersebut, Ma’ruf juga mengajak peserta untuk kembali memahami pemikiran Ki Hajar Dewantara yang hingga kini tetap menjadi rujukan pendidikan nasional. Ia menyoroti konsep Tripusat Pendidikan yang mencakup sekolah, keluarga, dan masyarakat; Sistem Among yang berlandaskan filosofi Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani; serta Trisakti Jiwa yang menyeimbangkan unsur cipta, rasa, dan karsa.
Menurutnya, nilai-nilai tersebut tetap relevan sebagai landasan pendidikan di era digital, meskipun implementasinya perlu disesuaikan dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan generasi masa kini.
“Nilai-nilai pendidikan yang diwariskan Ki Hajar Dewantara harus tetap menjadi fondasi, namun implementasinya perlu disesuaikan dengan kebutuhan generasi masa kini yang hidup di tengah transformasi digital,” katanya.
Ma’ruf menambahkan, keberhasilan pembangunan pendidikan membutuhkan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, sekolah, keluarga, masyarakat, hingga dunia usaha dan dunia industri.
Melalui pelatihan ini, para instruktur dan pengelola LKP diharapkan mampu menjadi agen perubahan di daerah masing-masing serta berkontribusi dalam mencetak sumber daya manusia yang unggul, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan masa depan.
(sin)














