Lumajang | MMC.co.id
Pernah dengar seseorang berkata, “Tenang, urusan itu sudah 86”? Istilah “86” semakin akrab di telinga masyarakat, terutama dalam percakapan sehari-hari yang berbau ‘perundingan’, ‘pengaturan’, atau bahkan ‘penyelesaian di belakang layar’. Tapi, tahukah kamu dari mana sebenarnya istilah ini berasal?
Istilah “86” berawal dari penggunaan kode tertentu dalam dunia komunikasi, terutama pada era analog ketika percakapan penting dilakukan via radio atau perangkat komunikasi satu arah. Angka ini dahulu digunakan untuk menyatakan bahwa suatu urusan telah selesai atau kondisi telah aman dan terkendali. Seiring waktu, istilah ini menyebar ke masyarakat umum dan mengalami pergeseran makna.
Tanpa disadari, “86” berubah menjadi bagian dari bahasa informal yang populer digunakan dalam berbagai konteks. Mulai dari obrolan santai, hingga pembicaraan serius terkait penyelesaian suatu masalah, baik secara resmi maupun nonformal.
Kini, “86” lebih sering digunakan untuk menunjukkan bahwa suatu permasalahan telah ‘diselesaikan secara internal’, atau tidak diumbar ke publik. Dalam banyak percakapan, istilah ini juga bisa mengarah pada kesepakatan diam-diam, kadang konotasinya positif, tapi tak jarang pula negatif.
Contoh penggunaannya antara lain:
“Urusan itu gak perlu dibawa ribut, udah di-86 kok.”
“Santai, kita 86 aja nanti malam.”
Konteks penggunaan yang tidak selalu jelas ini membuat “86” menjadi istilah yang unik. Terkadang netral, kadang mencurigakan—tergantung siapa yang bicara dan dalam situasi apa.
Popularitas istilah ini juga terdongkrak oleh berbagai tayangan hiburan dan media sosial. Banyak konten kreator, komedian, hingga vloger menggunakannya dalam konten mereka untuk memberi nuansa “urusan beres” tanpa penjelasan lebih lanjut. Bahkan, kata “86” sering dijadikan judul meme atau punchline dalam lelucon ringan.
Ungkapan “86” adalah salah satu bukti bahwa bahasa terus berkembang sesuai budaya dan kebutuhan komunikasi masyarakat. Dari angka menjadi idiom, istilah ini menyimpan makna yang luas, kadang serius, kadang jenaka. Namun yang pasti, “86” kini menjadi bagian dari identitas bahasa urban Indonesia yang kaya dan dinamis.
(sin)














