Gelar Sekolah Kehumasan, Humas dan Infokom Pesantren Nurul Jadid Gandeng PWI Kupas Tuntas Digital PR

Namun, pengelola wajib memahami karakter algoritma platform yang terus berubah. Contohnya, Instagram dan TikTok kini lebih fokus pada minat pengguna (user interest) dibandingkan jumlah pengikut. Facebook dan YouTube memprioritaskan interaksi bermakna seperti komentar dan membagikan ulang (shares) dibanding sekadar likes. Sementara itu, LinkedIn dan X (Twitter) tetap mengedepankan relevansi teks, aktualitas isu, serta kedalaman diskusi.

Babul juga menyoroti tiga tren konten yang sangat digemari audiens saat ini:

  1. Video Pendek (Short Video): Berdurasi 15–60 detik yang dilengkapi dengan hook (pancingan) menarik di awal video.
  2. Keaslian (Authenticity over Perfection): Memperlihatkan konten di balik layar (behind the scenes) secara natural dan jenaka.
  3. Pemanfaatan Social SEO: Mengoptimalkan kata kunci, tagar (hashtag), serta penggunaan musik tren pada kolom deskripsi.

Praktisi humas juga didorong untuk menguasai teknik menulis persuasif (copywriting). Babul membagikan dua formula penulisan yang lazim digunakan, yakni:

• Formula AIDA (Attention, Interest, Desire, Action): Menggugah perhatian lewat judul yang kuat, membeberkan fakta, menunjukkan keunggulan, dan diakhiri dengan ajakan bertindak (call to action). Hal ini sangat cocok diterapkan misalnya pada publikasi Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB).

• Formula PAS (Problem, Agitate, Solve): Menemukan masalah utama audiens, mempertajam dampak masalah, lalu menghadirkan program atau produk institusi sebagai solusinya.

Pada akhir sesi, Babul memberikan perhatian khusus pada mitigasi krisis di institusi pendidikan sekolah di bawah naungan pesantren. Institusi ini dinilai sangat sensitif terhadap terpaan isu negatif di ruang digital, seperti kasus perundungan (bullying), pungutan liar (pungli), ketidakpuasan orang tua, hingga keluhan fasilitas belajar.

Oleh karena itu, diperlukan langkah mitigasi proaktif yang disebut Social Media Listening agar sekolah dapat mendeteksi isu sebelum menjadi krisis besar. “Tim humas sekolah wajib melakukan pencarian manual secara terjadwal setiap pagi dan sore menggunakan kata kunci spesifik di platform X, TikTok, dan Instagram. Selain itu, pantau ketat ruang komentar dan tagging secara berkala. Jangan biarkan ada komentar negatif menggantung tanpa respons selama lebih dari 2 jam di jam kerja,” imbaunya.

Babul menyimpulkan bahwa meskipun konten kreatif akan selalu sukses menarik perhatian calon siswa baru, respons komunikasi yang cepat dan empati yang tuluslah yang pada akhirnya akan mampu mempertahankan kepercayaan jangka panjang dari para orang tua murid serta masyarakat luas.

(roni)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *