Lumajang | mmc.co.id
Di tengah hiruk pikuk kota Lumajang, geliat UMKM terlihat jelas dari sosok Riki, seorang pedagang batagor dan siomay yang mangkal di pinggir jalan dengan gerobak dorongnya tepatnya di pertigaan Dawuhan Lor. Sejak pagi pukul 09.00 WIB, Riki sudah siap menjajakan dagangannya, menyapa para pembeli dengan senyuman ramah.
Berasal dari Cirebon, Riki mengadu nasib di Lumajang dengan berjualan batagor dan siomay. Kegigihannya patut diacungi jempol. Setiap hari, ia berjibaku dengan panas dan hujan demi mengais rezeki untuk keluarga.
Meskipun berjualan di pinggir jalan, dagangan Riki tak pernah sepi pembeli. Cita rasa batagor dan siomaynya yang lezat, dipadukan dengan harga yang terjangkau, menjadikannya pilihan favorit bagi banyak orang.
“Alhamdulillah, biasanya dalam sehari saya bisa mendapatkan omzet sekitar Rp 300.000, dengan belanja modal Rp. 150.000,” ungkap Riki.
Namun, dari omzet tersebut, ia harus memotong biaya modal sekitar Rp 150.000 untuk membeli bahan baku dan keperluan lainnya.
Riki tak pernah mengeluh dengan pekerjaannya. Ia tetap semangat berjualan setiap hari, tak peduli cuaca panas ataupun hujan. Baginya, kerja keras adalah kunci untuk meraih kesuksesan.
“Saya ingin memberikan kehidupan yang layak bagi keluarga. Dengan berjualan ini, saya bisa menyekolahkan anak dan memenuhi kebutuhan sehari-hari,” tuturnya penuh optimisme.
Di tengah berbagai keterbatasan, para pelaku UMKM tetap gigih dan pantang menyerah dalam berusaha. Mereka menjadi tulang punggung ekonomi bangsa, menggerakkan roda ekonomi di tingkat bawah.
Kisah Riki dan para pelaku UMKM lainnya patutlah kita apresiasi dan dukung. Dengan memberikan ruang dan kesempatan bagi mereka untuk berkembang, geliat UMKM akan semakin kuat, dan pada akhirnya, akan membawa manfaat bagi kemajuan ekonomi bangsa.
(sin)














